" GAUNG RAKERNAS II GERBANG DAYAK BERGEMA DARI KAMPUNG DANUM PAROY, MELESTARIKAN BUDAYA DALAM BINGKAI PERSATUAN MENUJU MASA DEPAN YANG BERMARTABAT "

" GAUNG RAKERNAS II GERBANG DAYAK BERGEMA DARI KAMPUNG DANUM PAROY, MELESTARIKAN BUDAYA DALAM BINGKAI PERSATUAN MENUJU MASA DEPAN YANG BERMARTABAT "

TARGET OPERASI - Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

     Dentang gong menggema di depan Balai Lembaga Adat Kampung Danum Paroy, Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Di tengah lanskap kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan adat dan tradisi, suara-suara dari berbagai penjuru Kalimantan bertemu. Mereka datang membawa identitas daerah masing-masing, tetapi dipertemukan dalam satu agenda yang istimewa: Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Gerakan Barisan Antang Dayak (GBAD) GERBANG DAYAK Tahun 2026.

     Bukan sekadar rapat organisasi. Rakernas II Gerakan Barisan Antang Dayak (GBAD) GERBANG DAYAK yang berlangsung pada hari Jumat sampai Minggu, tanggal 18–20 September 2026 itu menjadi ruang perjumpaan antara konsolidasi organisasi, persaudaraan lintas daerah, serta pelestarian adat dan budaya Dayak. 
Mengusung tema “Memperkuat Persatuan, Melestarikan Budaya, Membangun Peradaban Dayak yang Berdaya dan Bermartabat”, seluruh rangkaian kegiatan membawa semangat “Handep Hapakat Isen Mulang” semangat kebersamaan, kesepakatan dalam musyawarah, dan keteguhan dalam melangkah tanpa pantang menyerah yang menjadi bagian dari nilai-nilai perjuangan masyarakat Dayak.

     Pelaksanaan Rakernas II GERBANG DAYAK di Kampung Danum Paroy, Mahakam Ulu ini tidak hanya menghadirkan agenda organisasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana adat, budaya, dan kearifan lokal ditempatkan sebagai bagian penting dalam kehidupan organisasi. Dari tempat inilah pesan tentang pentingnya menjaga akar budaya kembali digaungkan.
Bahwa perubahan zaman tidak harus membuat masyarakat kehilangan identitas. Bahwa organisasi dapat berkembang tanpa harus meninggalkan adat. Dan bahwa persatuan dapat dibangun tanpa menghapus keberagaman.

     Rangkaian kegiatan Rakernas II sesungguhnya telah dimulai sehari sebelum agenda utama. Pada Kamis, 17 September 2026, Ketua Umum GERBANG DAYAK, Kimang Damai, bersama rombongan jajaran pengurus DPP dan DPD telah tiba di Kampung Danum Paroy. Sebagai tuan rumah, Ketua DPD GERBANG DAYAK Kalimantan Timur, Sufiyan T., didampingi sekretaris Rudini bersama Petinggi Kampung Danum Paroy, tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat menyambut kedatangan rombongan melalui upacara adat setempat. Prosesi tersebut menjadi bagian awal yang memberi warna kuat pada keseluruhan kegiatan. Suasana tersebut menjadi pembuka yang sarat makna. Di tengah arus perubahan zaman, adat tidak ditempatkan sekadar sebagai simbol seremonial. Di dalamnya terdapat tata krama yang menjadi bagian dari cara masyarakat menyambut, menghormati, dan membangun hubungan antar sesama dengan lingkungan sosial dan budaya tempat kegiatan berlangsung. Setelah prosesi penyambutan, Ketua Umum bersama rombongan kemudian menuju kediaman Ketua DPD GERBANG DAYAK Kalimantan Timur untuk beristirahat, sembari menunggu kedatangan peserta Rakernas dari berbagai DPD, DPC, dan DPAC se-Kalimantan. Satu demi satu rombongan berdatangan. Dari berbagai wilayah, mereka membawa pengalaman, program, serta dinamika organisasinya masing-masing. Namun di Kampung Danum Paroy, seluruh perbedaan itu bertemu dalam satu ruang kebersamaan.

    Pada Jumat, 18 September 2026, Kampung Danum Paroy mulai dipenuhi lautan Pasukan Merah Antang Dayak se-Kalimantan. Peserta Rakernas mulai berdatangan dan melakukan registrasi atau check-in. Setelah rangkaian istirahat, ibadah, dan makan, suasana beralih menuju rangkaian adat. Mulai pukul 17.00 hingga 22.00 WITA, peserta mengikuti ritual Badudus/Bepandui. Ritual tersebut menjadi salah satu bagian penting yang memperlihatkan kuatnya nuansa budaya dalam Rakernas II. Di sini, budaya tidak berhenti sebagai ornamen. Budaya hadir melalui prosesi yang dijalani bersama, perjumpaan antarpeserta, penghormatan terhadap adat, dan suasana kebersamaan yang dibangun sejak awal menciptakan suasana yang tidak hanya bersifat administratif tetapi juga sarat nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

     Kampung Danum Paroy, Mahakam Ulu, seolah mengingatkan bahwa organisasi yang tumbuh di tengah masyarakat tidak berdiri di ruang kosong. Ada sejarah. Ada adat. Ada warisan leluhur.
Dan ada tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai tersebut agar tetap dikenal dan dipahami oleh generasi berikutnya.

     Sabtu, 19 September 2026, suasana Kampung Danum Paroy semakin semarak. Pukul 08.00 WITA, pembukaan Rakernas II dilaksanakan di depan Balai Lembaga Adat Kampung Danum Paroy, Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Ketua Umum Gerakan Barisan Antang Dayak (GBAD) GERBANG DAYAK Kimang Damai hadir bersama jajaran DPP, DPD, DPC, DPAC serta Pasukan Merah Antang Dayak se-Kalimantan. Hadir pula Petinggi Kampung Danum Paroy, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur TNI/POLRI, dan masyarakat setempat yang sangat antusias menghadiri acara tersebut.

  Rangkaian pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebagai bentuk penghormatan kepada bangsa dan negara serta penghargaan kepada para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Suasana seketika berubah khidmat. Di tengah lingkungan adat, simbol kebangsaan berdiri berdampingan dengan identitas budaya lokal menjadi penanda bahwa kecintaan terhadap adat dan budaya Dayak berjalan berdampingan dengan komitmen kebangsaan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

     Setelah itu, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan doa lintas agama yang disampaikan oleh tokoh agama Islam, Kristen Katolik, dan Kaharingan. Doa bersama tersebut menjadi bagian dari gambaran keberagaman yang hadir dalam kegiatan. Doa dan harapan dipanjatkan agar seluruh rangkaian Rakernas II berjalan aman, diberikan kelancaran, keselamatan, dan memperoleh keberkahan dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Jubata serta menghasilkan keputusan yang dapat memberi manfaat bagi organisasi dan masyarakat luas.

     Setelah rangkaian pembukaan, kegiatan memasuki agenda organisasi. Kode etik dan tata tertib Rakernas dibacakan oleh Fitri Boga Artanti, Humas DPC GERBANG DAYAK Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yang bertugas sebagai MC sekaligus bagian dari sesi humas dan publikasi kegiatan. Dengan pembawaan yang dinamis, sesi tersebut menjadi jembatan dari suasana seremonial menuju agenda organisasi.

     Selanjutnya, laporan panitia disampaikan oleh Kasmo Edot yang mengemban tugas sebagai Wakil Ketua Panitia sekaligus Ketua DPC GERBANG DAYAK Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Dalam laporan tersebut memuat gambaran mengenai persiapan dan pelaksanaan Rakernas II sebagai forum konsolidasi nasional organisasi.

     Perhatian kemudian tertuju kepada Ketua Umum GERBANG DAYAK, Kimang Damai, yang menyampaikan sambutan dan arahan organisasi. Sebagai Panglima Tertinggi Pasukan Merah Antang Dayak dengan gelar adatnya Panglima Naga Bajela Bulau, Kimang Damai mengarahkan jajaran organisasi agar Rakernas tidak berhenti sebagai forum pertemuan, tetapi menjadi momentum memperkuat persatuan, mengevaluasi perjalanan organisasi, serta merumuskan langkah organisasi ke depan yang dapat memberikan manfaat bagi anggota dan masyarakat.

     Momen pembukaan mencapai puncaknya ketika Ketua Umum, Kimang Damai secara resmi membuka Rakernas II Gerakan Barisan Antang Dayak (GBAD) GERBANG DAYAK dengan pemukulan Gong. Prosesi tersebut didampingi Petinggi Kampung Danum Paroy, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jajaran pengurus DPP, DPD, DPC dan DPAC se-Kalimantan. Gong berdentang. Suaranya menggema di ruang terbuka Kampung Danum Paroy. Secara kegiatan, dentang gong itu menjadi penanda dimulainya agenda Rakernas II. Dalam suasana budaya Kampung Danum Paroy, gong sekaligus menjadi bagian dari simbol penghormatan terhadap tradisi lokal. Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan suguhan tarian khas Dayak Kalimantan Timur yang dibawakan oleh para penari yang cantik jelita dan gagah rupawan sebagai wajah budaya lintas generasi penerus warisan leluhur. Acara kemudian ditutup dengan tarian Manasai yang menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan masyarakat Dayak. Gerak sederhana yang dilakukan bersama menjadi gambaran kebersamaan bahwa peserta datang dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda, tetapi dapat berdiri dalam satu lingkaran persaudaraan.

     Setelah acara pembukaan resmi dilakukan, makan siang dan istirahat, agenda berlanjut pada pukul 14.00 WITA menuju inti Rakernas II. Forum dipimpin oleh Sekretaris Jenderal DPP GERBANG DAYAK, Imam, bersama wakilnya, Insa Marhadent. 


    Satu per satu DPD dan DPC se-Kalimantan menyampaikan laporan kegiatan periode tahun 2025–2026. Pembahasan meliputi perkembangan organisasi, jumlah dan perekrutan anggota, program kerja, pendampingan masyarakat, kegiatan sosial kemasyarakatan, serta berbagai dinamika organisasi di masing-masing daerah.


   Laporan tersebut menjadi bahan evaluasi bersama sekaligus pijakan untuk menyusun program kerja jangka pendek dan jangka panjang. Forum tidak hanya melihat apa yang telah dilakukan, tetapi juga membahas langkah yang perlu diperbaiki, diperkuat, dan dikembangkan untuk periode berikutnya. Rakernas menjadi ruang untuk mendengar perkembangan dari daerah, mempertemukan berbagai pengalaman, sekaligus menyusun arah kerja organisasi. Pada pukul 17.30 WITA, agenda Rakernas II ditutup dengan sejumlah kesepakatan untuk keberlanjutan organisasi periode tahun 2026–2027. Salah satu keputusan yang ditetapkan adalah Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, sebagai tuan rumah Rakernas III tahun 2027.

     Malam harinya menghadirkan suasana yang berbeda. Setelah seharian menjalani agenda formal dan pembahasan organisasi, peserta kembali berkumpul dalam kegiatan ramah tamah dan silaturahmi budaya. Suasana menjadi lebih cair. Sekat administratif antara pusat dan daerah melebur dalam percakapan dan kebersamaan. Peserta yang datang dari berbagai penjuru Kalimantan kembali duduk bersama sebagai bagian dari satu keluarga besar organisasi.
Di ruang seperti inilah nilai Handep Hapakat Isen Mulang menemukan ruang penghayatan yang berbeda: bekerja bersama, bermusyawarah, menjaga hubungan, dan terus melangkah dalam kebersamaan. Kampung Danum Paroy menjadi ruang perjumpaan, Budaya menjadi jembatan dan Persaudaraan menjadi pengikat.

    Pada Minggu, 20 September 2026, rangkaian Rakernas II memasuki tahap akhir. Mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA dilaksanakan penandatanganan rekomendasi dan berita acara hasil Rakernas II oleh para Ketua DPD dan DPC se-Kalimantan. Penandatanganan tersebut menjadi bagian dari penegasan terhadap hasil pembahasan dan kesepakatan yang telah dirumuskan selama forum berlangsung. Setelah seluruh rangkaian selesai, peserta melakukan registrasi kepulangan atau check-out dan bersiap kembali ke daerah masing-masing. Namun, perjalanan pulang dari Kampung Danum Paroy tidak hanya membawa barang bawaan. Ada hasil evaluasi, ada kesepakatan, ada agenda kerja, ada pengalaman dan kenangan disetiap momen kebersamaan, dan ada pesan budaya yang kembali dibawa ke daerah masing-masing.

     Rakernas II GERBANG DAYAK di Kampung Danum Paroy, Mahakam Ulu memperlihatkan satu pesan penting : pelestarian budaya tidak harus berjarak dengan perkembangan organisasi dan kehidupan modern. Adat dapat berjalan bersama organisasi. Kearifan lokal dapat menjadi sumber nilai dalam membangun persaudaraan. Budaya dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah. Dan organisasi dapat menjadi salah satu ruang untuk menjaga agar nilai-nilai tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. GERBANG DAYAK menempatkan identitas budaya dan kearifan lokal sebagai bagian dari perjalanan organisasinya, dengan semangat menjaga adat istiadat serta warisan leluhur yang beradat dan bermartabat.

     Dari Kampung Danum Paroy, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, pesan itu kembali digaungkan. Bahwa membangun masa depan tidak berarti meninggalkan akar. Justru dari akar budaya, persatuan dapat tumbuh. Dari persatuan, gerakan dapat dibangun. Dan dari gerakan yang berlandaskan nilai, kontribusi bagi masyarakat dapat diwujudkan. Dan menjadi pengingat bahwa budaya bukan hanya warisan yang dikenang, tetapi nilai yang harus terus dihidupkan. Rakernas II GERBANG DAYAK telah berakhir, namun semangatnya dibawa pulang ke seluruh penjuru Kalimantan. Bukan hanya sebagai kenangan dari sebuah Rakernas. Tetapi sebagai rangkaian nilai yang diharapkan terus diterjemahkan dalam kerja organisasi dan kehidupan bermasyarakat.
Handep Hapakat Isen Mulang. Memperkuat Persatuan. Melestarikan Budaya. Membangun Peradaban Dayak yang Berdaya dan Bermartabat.
Dari Kampung Danum Paroy, Mahakam Ulu, untuk persatuan, budaya, dan masa depan. 

( TIM TO )