" DENTUM BUDAYA DARI RUBUNG BUYUNG BANINAN UNTUK KALIMANTAN! DEKLARASI KE-3 GERBANG DAYAK DAN HUT KERAMAT LUANG GRAHA SATUKAN PASUKAN MERAH ANTANG DAYAK DALAM SEMANGAT MENJAGA MARWAH LELUHUR "
TARGET OPERASI - Kotawaringin Timur :
Di tengah bentangan hutan Kalimantan yang masih teguh memeluk akar peradaban dan menjaga jejak para leluhur, lautan merah Pasukan Antang Dayak memenuhi Desa Rubung Buyung Baninan, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur. Selama tiga hari, mulai dari tanggal 29–31 Juli 2026, lebih dari 200 peserta dari berbagai penjuru Kalimantan berkumpul dalam satu semangat, satu derap langkah, dan satu komando adat untuk memperingati Deklarasi Berdirinya Gerakan Barisan Antang Dayak (GBAD) GERBANG DAYAK yang ke-3 sekaligus Hari Ulang Tahun Keramat Luang Graha.
Momentum tersebut bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan menjadi ruang konsolidasi, pelestarian budaya, dan penguatan jati diri masyarakat Dayak yang berpijak pada nilai-nilai luhur warisan nenek moyang.
Mengusung tema "Menyelami dan Menghayati Warisan Leluhur sebagai Landasan Penguatan Jati Diri Gerakan Barisan Antang Dayak", kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar peringatan organisasi. Ia menjadi ruang kebangkitan, konsolidasi, refleksi,dan penguatan identitas budaya yang lahir serta berpijak dari akar nilai-nilai luhur masyarakat adat Dayak.
Sejak hari pertama, suasana penuh kekeluargaan yang menyatu dengan alam menjadi simbol mensyukuri kenikmatan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Terlebih ketika Prosesi adat Badudus/Bapandui dimulai menjadi salah satu rangkaian acara yang paling khidmat. Di bawah cahaya malam hutan Kalimantan, iringan doa-doa adat, ritual penyucian, serta kebersamaan para Pasukan Merah Antang Dayak mengikuti ritual dengan penuh penghormatan terhadap adat dan leluhur menghadirkan nuansa sakral yang menyelimuti kawasan keramat luang graha. Bagi para peserta, ritual tersebut bukan hanya bagian dari tradisi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa menjaga budaya berarti menjaga identitas, menjaga hutan berarti menjaga kehidupan, dan menjaga persatuan berarti menjaga masa depan masyarakat Dayak.
Acara dipimpin langsung oleh Ketua Umum Gerakan Barisan Antang Dayak (GBAD) GERBANG DAYAK, Sang Panglima tertinggi Pasukan Merah Antang Dayak Kimang Damai, yang menyandang gelar sakralnya Panglima Naga Bajela Bulau. Dalam pidatonya yang membakar semangat pasukan dan seluruh elemen masyarakat adat, ia mengajak seluruh keluarga besar GERBANG DAYAK untuk terus merawat persatuan dan melestarikan budaya di tengah perkembangan zaman. "Jangan pernah lelah menjaga budaya. Jangan pernah mundur dari perjuangan. Dayak adalah akar, bukan ranting. Kita berdiri bukan karena dipanggil, tetapi karena hati dan sejarah mengingatkan bahwa tanah ini membutuhkan penjaga. Persatuan adalah warisan yang harus terus dirawat. Hutan, budaya, dan adat adalah bagian dari kehidupan masyarakat Dayak yang patut dijaga bersama," tegas Kimang Damai, yang disambut tepuk tangan dan pekikan semangat para peserta.

Puncak kegiatan berlangsung pada Jumat, 31 Juli 2026. Acara dipandu oleh Fitri Boga Artanti yang juga merupakan Humas DPC GERBANG DAYAK Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Ia membawakan acara dengan penuh semangat yang membangun suasana hangat dan penuh kekeluargaan sekaligus membangkitkan rasa persaudaraan di antara seluruh peserta.
Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan dan kecintaan kita terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia serta penegasan bahwa pelestarian budaya daerah berjalan selaras dengan semangat kebangsaan.
Agar seluruh rangkaian acara diberikan keselamatan, keberkahan, kelancaran, serta senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Jubata kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Deby, perwakilan dari DPC Murung Raya menjadikan kekuatan spiritual bagi seluruh keluarga besar GERBANG DAYAK.
Acara kemudian dilanjutkan dengan laporan pertanggung jawaban panitia yang disampaikan oleh perwakilannya Kasmo Edot yang juga menjabat sebagai Ketua DPC GERBANG DAYAK Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Suasana semakin hangat ketika kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah tamah dari para Ketua DPD, DPC, dan perwakilan dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Timur yang hadir menyampaikan sambutan, berbagi pengalaman organisasi, serta memperkuat komitmen menjaga solidaritas di seluruh wilayah.
Arahan organisasi kemudian disampaikan oleh Sekretaris Jenderal dan Dewan Penasehat DPP sebagai bekal memperkuat arah perjuangan GERBANG DAYAK ke depan.
Sepanjang kegiatan, pekikan semangat terus menggema.
"HANDEP HAPAKAT ISEN MULANG!"
"HIDUP GERBANG DAYAK!"
"HIDUP GERBANG DAYAK!" "HANDEP HAPAKAT ISEN MULANG!"
Sorak Yel-yel tersebut berkali-kali menjadi simbol kebersamaan yang menyatukan kekompakan seluruh peserta tanpa memandang asal daerah.

Menjelang penutupan, Fitri Boga Artanti menyampaikan orasi yang mengajak seluruh keluarga besar GERBANG DAYAK untuk terus menjaga persatuan dan melestarikan budaya Dayak.
"Saudara-saudariku...
Tidak ada organisasi yang besar tanpa persatuan. Tidak ada budaya yang lestari tanpa generasi yang mau menjaganya. Tidak ada kehormatan tanpa pengorbanan. Mari kita jadikan GERBANG DAYAK sebagai rumah besar persaudaraan, rumah tempat kita belajar, rumah tempat kita saling menguatkan, rumah tempat kita menjaga kehormatan adat dan martabat masyarakat Dayak. Mari kita wariskan kepada anak cucu bahwa leluhur kita telah meninggalkan nilai-nilai kejujuran, keberanian, gotong royong, persaudaraan, dan penghormatan terhadap alam. Selama nilai-nilai itu hidup, maka Dayak akan tetap bermartabat, GERBANG DAYAK akan tetap berdiri tegak, dan Indonesia akan semakin kuat karena keberagaman budayanya tetap terpelihara. Marilah kita satukan semangat!"
Orasi tersebut ditutup dengan pantun yang mengundang tepuk tangan seluruh peserta.
"Burung enggang terbang melayang, Sayap terkembang menembus awan.
Keramat Luang Graha akan terus dikenang,
Karena rumah tempat kita kembali pulang.
Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan dokumentasi perjalanan sejarah organisasi yang sarat makna.
Tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan pelestarian budaya, pertemuan tersebut juga menghasilkan keputusan strategis organisasi. Dalam forum tersebut disepakati rencana pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Gerakan Barisan Antang Dayak (GBAD) GERBANG DAYAK, yang diagendakan berlangsung pada bulan September 2026 di Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur. Rakernas diharapkan menjadi forum untuk menyusun program kerja nasional, memperkuat koordinasi antarwilayah, serta merumuskan arah pengembangan organisasi ke depannya.
Berakhirnya kegiatan di Desa Rubung Buyung Baninan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari penguatan komitmen seluruh keluarga besar GERBANG DAYAK. Para peserta kembali ke daerah masing-masing dengan membawa semangat baru untuk terus menjaga adat, mempererat persaudaraan, dan melestarikan warisan leluhur. Seperti semboyan yang terus digaungkan sepanjang kegiatan, "Handep Hapakat Isen Mulang" bukan sekadar slogan, melainkan tekad bersama untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kehormatan adat sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Salam Pasukan Merah Antang Dayak!
GERBANG DAYAK Tetap Tegak!
Handep Hapakat Isen Mulang!
Dari Bumi Adat untuk Indonesia yang Berbudaya dan Bermartabat.
( SUBAN / IMAM )