" PANGLIMA UTAR : DARI KUMAI KE GARIS DEPAN PERLAWANAN, KISAH PEJUANG RAKYAT 1946 YANG MENJAGA HARGA DIRI BANGSA "

" PANGLIMA UTAR : DARI KUMAI KE GARIS DEPAN PERLAWANAN, KISAH PEJUANG RAKYAT 1946 YANG MENJAGA HARGA DIRI BANGSA "

TARGET OPERASI - Kotawaringin Barat :

    Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis di kota-kota besar, tetapi juga tumbuh dari perlawanan rakyat di pesisir, sungai, dan hutan. Tidak semua pahlawan lahir dari istana atau akademi militer. Sebagian besar justru tumbuh dari kampung-kampung kecil, dari pelabuhan sederhana, dan dari rakyat biasa yang memilih berdiri ketika bangsanya terancam. Di tanah Kumai, Kotawaringin Barat, lahirlah seorang pejuang rakyat yang namanya hidup dari mulut ke mulut, dan dia adalah Panglima Utar.

    Panglima Utar bukan perwira akademi militer,bukan pula tokoh politik besar. Ia adalah seorang pejuang rakyat Kumai yang memimpin perlawanan terhadap kembalinya penjajahan pada tahun 1946. Panglima Utar lahir dan besar di Kumai, wilayah yang hidup berdampingan dengan sungai, laut, dan hutan. Sejak kecil, hidupnya ditempa oleh kerja keras sebagai nelayan, buruh pelabuhan, dan penjaga kampung. Kekayaan bukanlah milik mereka, namun harga diri dan keberanian adalah warisan yang dijaga.

    Saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada Tanggal 17 Agustus 1945 dikumandangkan, gema kemerdekaan sampai ke Kumai tanpa seremoni megah. Tidak ada siaran radio atau lewat pengeras suara, ataupun dokumen resmi melainkan dari cerita para pelaut dan pemuda. Namun bagi rakyat Kumai, satu hal yang harus diyakini: Indonesia telah merdeka, dan kemerdekaan itu bukan untuk diserahkan kembali.

    Ketika awal 1946 menjadi masa genting dimana Pasukan Sekutu bersama kepentingan Belanda (NICA) kembali menguasai wilayah strategis, termasuk Pelabuhan Laut Kumai. Jalur logistik dan hasil bumi menjadi target. Ketegangan pun memuncak, bendera asing berkibar, dan jalur logistik strategis mulai dikuasai kembali oleh penjajah. Kehadiran mereka menciptakan ketakutan, penindasan, dan luka batin bagi rakyat yang baru saja merdeka.

    Kondisi itu melahirkan kesadaran kolektif. Panglima Utar bersama tokoh kampung, mantan Heiho, Kaigun, dan para pemuda pelabuhan membentuk laskar rakyat Kumai. Mereka tidak menunggu instruksi pusat. Mereka bergerak karena nurani. Dengan persenjataan seadanya seperti : Senapan tua, parang, tombak, mereka mulai berjuang. Selain itu,  mereka mengandalkan satu kekuatan utama yaitu Keberanian dan penguasaan medan. Mereka menjadikan alam sebagai sekutunya. Sungai-sungai kecil, rawa, dan jalur laut sempit yang asing bagi pasukan musuh menjadi senjata yang tak tertulis dalam buku taktik perang. Strategi gerilya diterapkan bukan untuk pamer kekuatan, tetapi untuk mematahkan dominasi dan ketakutan.

    Tekanan yang terus-menerus dengan strategi gerilya: memutus jalur suplai, melemahkan mental musuh, dan menunjukkan bahwa Kumai bukan tanah yang mudah ditaklukkan akhirnya membuat pasukan Sekutu/Belanda angkat kaki dari Pelabuhan Laut Kumai pada pertengahan 1946. 

    Tidak semua peristiwa tercatat rapi dalam arsip negara atau buku sejarah nasional. Namun darah, keringat, dan nyawa rakyat Kumai menjadi saksi sejarahnya. ia hidup dalam ingatan rakyat sebagai kemenangan moral dan simbol kedaulatan.
Panglima Utar dan laskar rakyat Kumai tidak mengklaim kemenangan besar. Bagi mereka, keberhasilan sejati adalah satu : Harga diri bangsa tetap berdiri di tanah sendiri.

    Setelah konflik mereda, Panglima Utar kembali menjalani hidup menjadi rakyat biasa. Ia tidak mengejar pujian atau jabatan. Tidak ada tuntutan penghargaan, tidak ada klaim jasa. Ia percaya bahwa pejuang sejati tidak mencari sorotan, melainkan ketenangan karena telah menunaikan kewajiban kepada tanah air.

    Namanya mungkin tak banyak tercetak dalam buku pelajaran, tetapi di Kumai, ia hidup dalam ingatan rakyat sebagai simbol bahwa sejarah besar dibangun oleh keberanian orang-orang sederhana dan pengabdian tanpa pamrih.
Kisah Panglima Utar adalah pengingat penting bagi generasi masa kini. Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sumber nilai dan arah masa depan. Mengenal sejarah lokal berarti mengenal jati diri, memahami pengorbanan, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.

    Kemerdekaan Indonesia saat ini bukan pemberian atau hadiah, melainkan hasil perjuangan rakyat biasa yang sangat luas biasa. Hari ini, perjuangan tidak lagi di Medan tempur. Namun nilai-nilai itu tetap relevan: kejujuran, persatuan, Keberanian melawan ketidakadilan, dan cinta pada tanah sendiri.
Selama Sungai Kumai masih mengalir ke laut, dan rakyatnya masih mencintai tanah kelahirannya, semangat perlawanan itu akan terus hidup seperti nama Panglima Utar yang tak akan pernah pergi dari sejarah rakyat Kumai.

( TIM TO )